Di Windows, saya mengandalkan winamp untuk tugas ini. Dengan winamp, saya bisa mengeblok seluruh file pada ipod, lalu klik kanan dan pilih menu copy to local media.


Di Linux, setelah berkeliling mencari, akhirnya saya menemukan kalau ternyata setelah membuka ipod dengan rhythmbox, kita dapat memblok seluruh file kemudian men-drag-nya ke folder yang saya inginkan. Minusnya adalah, nama filenya jadi berantakan.

Ketika mencoba samba bawaan Ubuntu 9.10, saya tidak bisa men-share folder. Setelah di google, saya menemukan banyak orang yang mengalami hal yang sama. Akhirnya ada seseorang yang memberikan solusi, yaitu dengan mengupgrade paket samba-common-bin.

$ sudo apt-get upgrade samba-common-bin
Setelah itu samba dapat bekerja dengan baik. Sip deh :)

Untuk menginstall wxRuby di Ubuntu 9.10,

Ikuti langkah-langkah di bawah ini

1. wget http://www.trilake.net/wxRuby/wxruby-2.0.1-x86-linux.gem
2. sudo gem install --local wxruby-2.0.1-x86-linux.gem
3. sudo apt-get install libwxgtk2.8-0 libwxbase2.8-0

Ubuntu 9.10 baru saja dirilis. Sebenarnya saya tidak mau mencoba karena menurut yang saya baca dari internet tidak ada apapun yang menurut saya cukup keren untuk membuat saya menghapus 9.04 yang saya sukai. Namun akhirnya saya memutuskan untuk tetap mendownloadnya. Dan setelah di download... biasa lah. Ada dorongan alami untuk menginstallnya. Jadi deh diinstall.

Begitu menginstall, yang nampak jelas adalah layar loading yang berbeda. Kesannya lebih misterius gitu. Pertama booting butuh waktu 1 menit lebih dikit. Lebih lambat ketimbang 9.04 yang cuma sekitar 40 detik. Tapi kalo kecepatannya segitu sih masih ga ngefek. Kenceng.

Begitu selesai login, saya dapat kejutan.System Monitor menunjukkan kalau processor terpakai 100%. Padahal belum buka program apapun. Penasaran saya tekan kombinasi Ctrl+Alt+F1 untuk masuk ke mode cli. Ternyata penuh dengan pesan error yang intinya prosesor saya overheat. Dengan agak panik saya booting ulang dan masuk ke bios untuk mengecek suhu processor. 40 derajat celcius. What the....

Setelah puter2 di bios, saya melihat kalau settingan shut down ketika suhu melebihi ambang batas ternyata pada kondisi disable. Saya ganti menjadi 60 derajat celcius, kemudian booting ulang dan masuk lagi ke Linux. Viola. Sekarang processor saya terpakai 0%.

Di lihat-lihat, kecuali panel jam di sudut kanan atas, tidak banyak perubahan berarti. Panel jam di kanan atas semakin fungsional, kayaknya. Theme default berubah semakin keren. Icon2 juga berubah, terlihat bagus, clean dan modern. Overall, penampakannya bagus deh.

Begitu digunakan, praktis tidak ada perubahan berarti selain add / remove software yang tambah keren dan synaptic yang kini solid rock. Tidak lagi ditemukan layar terminal synaptic yang hitam kosong tidak menampilkan pesan apapun.

Rada bosan, saya memutuskan menginstall gnome-shell. Sebuah preview bagaimana gnome versi 3.x nantinya bekerja. Hasilnya... waw. Keren.



Panel bawah menghilang. Panel atas berubah menjadi tombol start, program yang sedang aktif, jam, tray dan nama user yang bisa di klik untuk menu tambahan.

Start menu keren banget. Begitu tekan tombol Super_L (tombol windows), workspace mengecil dengan semua window yang terbuka disusun agar kita dapat memilih dengan mouse. Di sisi kiri ada side panel. Tinggal ketik nama program yang ingin dipanggil, nantinya akan dimunculkan daftar2 program yang sesuai dengan ketikan kita. Mirip gnome-do atau launcher gitu. Kalo lupa, ada tombol more untuk menampilkan menu yang mirip dengan start menu yang lama. Lalu dibawahnya ada tempat yang kita bookmark seperti Home, Documents dll. Dibawahnya lagi ada recently open document.

Kalau workspace kurang, di bagian bawah kanan ada tombol + untuk menambah jumlah workspace.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba memakai gnome-shell ini sebagai desktop default dengan mengesetnya di startup application. Hingga sekarang saya menulis artikel ini saya masih menggunakan gnome-shell. Walaupun beberapa bug sudah mulai muncul, tapi saya senang menggunakannya.

Mungkin anda juga berniat mencoba?

Entah mengapa, Firefox menjadi sangat lambat di Ubuntu 9.04. Saya mencoba mengupdatenya menjadi FF 3.5, tapi hasilnya makin parah. Akhirnya saya memutuskan mencoba Google Chrome versi Linux.

Saya mendownloadnya di http://www.google.com/chrome/intl/en/linux.html dan menginstallnya. Kesan pertama? Google chrome versi Linux ini cukup stabil dan cepat. Lebih cepat daripada FF. Namun ada beberapa hal yang masih kurang.

Maka saya memutuskan untuk mengatasi kekurangan tersebut

1. Menginstall Flash Plugin
Saya mengikuti tutorialnya disini : http://www.ghacks.net/2009/09/02/enable-flash-and-use-themes-in-google-chrome-linux/
Pada dasarnya, yang dilakukan hanyalah membuat directory bernama plugins di /opt/google/chrome dan copy file libflashplayer.so

2. Menambahkan plugin2 lainnya
Di Firefox, saya punya beberapa plugin andalan yang kalau tidak ada rasanya kurang afdol, yaitu Adblock, Flash Block, dan Flash Got

Hasil searching di internet saya mendapati website http://www.chromeextensions.org/.
Disana ada Adblock dan Flash Block. Bahkan Flash Block-nya punya feature yang selama ini tidak saya ketahui, yaitu mendownload file flash yang di block dengan ctrl+click kiri.

Hanya Flash Got yang belum saya dapatkan. Pada dasarnya saya menggunakan Flash Got untuk memindahkan proses download file dari browser ke download manager lain seperti D4X atau wget. Namun dari hasil percobaan sementara ini, download manager bawaan Chrome berfungsi cukup baik.

Saat ini Chrome saya berjalan dengan lancar. Walaupun masih versi beta, saya tidak pernah mengalami crash ataupun hang. Menurut saya ini browser yang bagus sekali dan saya tidak ragu untuk menggunakannya sebagai browser andalah saya

Untuk membulatkan bilangan

x #bilangan yang akan dibulatkan
y #bilangan pembulat :p

pembulat = 1.to_f / y.to_f
hasil = (x * pembulat).round.to_f / pembulat


Untuk membuat pembulatan keatas / kebawah
ganti round dengan ceil atau floor

pembulatan keatas
pembulat = 1.to_f / y.to_f
hasil = (x * pembulat).ceil.to_f / pembulat


pembulatan kebawah
pembulat = 1.to_f / y.to_f
hasil = (x * pembulat).floor.to_f / pembulat


lebih lengkapnya, beginilah isi dari modul yang saya pakai
hasil copy paste dari internet dan edit sana sini

module Utils
def get_float(val)
begin
tmp = Float(val)
return tmp
rescue
return 0.to_f
end
end

def get_integer(val)
begin
tmp = Integer(val)
return tmp
rescue
return 0
end
end

def round_to(x)
(self * 10**x).round.to_f / 10**x
end

def ceil_to(x)
(self * 10**x).ceil.to_f / 10**x
end

def floor_to(x)
(self * 10**x).floor.to_f / 10**x
end

def round_by(number,rounder)
round = 1.to_f / get_float(rounder)
calc = (number.to_f * round).round.to_f / round
return calc
end

def ceil_by(number,rounder)
round = 1.to_f / get_float(rounder)
calc = (number.to_f * round).ceil.to_f / round
return calc
end

def floor_by(number,rounder)
round = 1.to_f / get_float(rounder)
calc = (number.to_f * round).floor.to_f / round
return calc
end

Kemarin, memenuhi rasa penasaran saya, mencoba untuk sekali lagi menantang diri sendiri. Yah, setelah sekian lama laptop kesayangan saya Acer Aspire 5002 tidak bisa berkoneksi ria via wifi (karena driver bawaan Ubuntu ga manjur), saya memutuskan untuk mencoba menginstall driver wifi-nya menggunakan ndiswrapper + driver windows. Perjuangannya memang lumayan, sekitar 4 jam. Tapi saya mendapatkan banyak ilmu baru yang... tidak berguna jika anda tidak mengalami masalah dengan hardware.

lspci

list pci (mungkin???)
jalankan perintah ini di terminal dan anda akan menyaksikan keajaiban. Yah, terminal akan menampilkan *mungkin semua hardware yang dideteksi di komputer. Dengan cara ini saya mengkonfirmasi kalau hardware wifi saya terdeteksi di Ubuntu. Kalau anda pusing melihat tampilannya, jangan khawatir. Saya punya obatnya

lspci -v


Nah, sekarang tampilannya lebih rapi kan

Selanjutnya...

lshw

listen hardware
Perintah ini, saya ga tau sih apa bedanya dengan yang diatas. Tapi yang jelas infonya lebih detail. Terutama saat kemarin menginstall wifi, saya menjalankan perintah ini untuk mengkonfirmasi jika wifi adapter saya telah menggunakan module ndiswrapper, dan bukan yang lain. Caranya...

lshw -C Broadcom


Ya, perintah2 ini memang sakti. Tapi kita tidak akan pernah digunakan jika tidak mengalami masalah dengan hardware. Dan kalaupun punya masalah dengan hardware (seperti kasus wifi adapter saya), biasanya sekali masalah teratasi, perintah ini sudah tidak akan digunakan lagi.

Yah... minimal tambah2 pengetahuan lah. Ga rugi bersusah payah 4 jam