Entah mengapa, Firefox menjadi sangat lambat di Ubuntu 9.04. Saya mencoba mengupdatenya menjadi FF 3.5, tapi hasilnya makin parah. Akhirnya saya memutuskan mencoba Google Chrome versi Linux.
Saya mendownloadnya di http://www.google.com/chrome/intl/en/linux.html dan menginstallnya. Kesan pertama? Google chrome versi Linux ini cukup stabil dan cepat. Lebih cepat daripada FF. Namun ada beberapa hal yang masih kurang.
Maka saya memutuskan untuk mengatasi kekurangan tersebut
1. Menginstall Flash Plugin
Saya mengikuti tutorialnya disini : http://www.ghacks.net/2009/09/02/enable-flash-and-use-themes-in-google-chrome-linux/
Pada dasarnya, yang dilakukan hanyalah membuat directory bernama plugins di /opt/google/chrome dan copy file libflashplayer.so
2. Menambahkan plugin2 lainnya
Di Firefox, saya punya beberapa plugin andalan yang kalau tidak ada rasanya kurang afdol, yaitu Adblock, Flash Block, dan Flash Got
Hasil searching di internet saya mendapati website http://www.chromeextensions.org/.
Disana ada Adblock dan Flash Block. Bahkan Flash Block-nya punya feature yang selama ini tidak saya ketahui, yaitu mendownload file flash yang di block dengan ctrl+click kiri.
Hanya Flash Got yang belum saya dapatkan. Pada dasarnya saya menggunakan Flash Got untuk memindahkan proses download file dari browser ke download manager lain seperti D4X atau wget. Namun dari hasil percobaan sementara ini, download manager bawaan Chrome berfungsi cukup baik.
Saat ini Chrome saya berjalan dengan lancar. Walaupun masih versi beta, saya tidak pernah mengalami crash ataupun hang. Menurut saya ini browser yang bagus sekali dan saya tidak ragu untuk menggunakannya sebagai browser andalah saya
Untuk membulatkan bilangan
x #bilangan yang akan dibulatkan
y #bilangan pembulat :p
pembulat = 1.to_f / y.to_f
hasil = (x * pembulat).round.to_f / pembulat
Untuk membuat pembulatan keatas / kebawah
ganti round dengan ceil atau floor
pembulatan keatas
pembulat = 1.to_f / y.to_f
hasil = (x * pembulat).ceil.to_f / pembulat
pembulatan kebawah
pembulat = 1.to_f / y.to_f
hasil = (x * pembulat).floor.to_f / pembulat
lebih lengkapnya, beginilah isi dari modul yang saya pakai
hasil copy paste dari internet dan edit sana sini
module Utils
def get_float(val)
begin
tmp = Float(val)
return tmp
rescue
return 0.to_f
end
end
def get_integer(val)
begin
tmp = Integer(val)
return tmp
rescue
return 0
end
end
def round_to(x)
(self * 10**x).round.to_f / 10**x
end
def ceil_to(x)
(self * 10**x).ceil.to_f / 10**x
end
def floor_to(x)
(self * 10**x).floor.to_f / 10**x
end
def round_by(number,rounder)
round = 1.to_f / get_float(rounder)
calc = (number.to_f * round).round.to_f / round
return calc
end
def ceil_by(number,rounder)
round = 1.to_f / get_float(rounder)
calc = (number.to_f * round).ceil.to_f / round
return calc
end
def floor_by(number,rounder)
round = 1.to_f / get_float(rounder)
calc = (number.to_f * round).floor.to_f / round
return calc
end
Labels: Ruby
Perintah sakti yang (mungkin) dipakai sekali pakai seumur hidup (kalau nggak sama sekali)
0 comments Posted by Hendra at 6:43 PMKemarin, memenuhi rasa penasaran saya, mencoba untuk sekali lagi menantang diri sendiri. Yah, setelah sekian lama laptop kesayangan saya Acer Aspire 5002 tidak bisa berkoneksi ria via wifi (karena driver bawaan Ubuntu ga manjur), saya memutuskan untuk mencoba menginstall driver wifi-nya menggunakan ndiswrapper + driver windows. Perjuangannya memang lumayan, sekitar 4 jam. Tapi saya mendapatkan banyak ilmu baru yang... tidak berguna jika anda tidak mengalami masalah dengan hardware.
lspci
list pci (mungkin???)
jalankan perintah ini di terminal dan anda akan menyaksikan keajaiban. Yah, terminal akan menampilkan *mungkin semua hardware yang dideteksi di komputer. Dengan cara ini saya mengkonfirmasi kalau hardware wifi saya terdeteksi di Ubuntu. Kalau anda pusing melihat tampilannya, jangan khawatir. Saya punya obatnya
lspci -v
Nah, sekarang tampilannya lebih rapi kan
Selanjutnya...
lshw
listen hardware
Perintah ini, saya ga tau sih apa bedanya dengan yang diatas. Tapi yang jelas infonya lebih detail. Terutama saat kemarin menginstall wifi, saya menjalankan perintah ini untuk mengkonfirmasi jika wifi adapter saya telah menggunakan module ndiswrapper, dan bukan yang lain. Caranya...
lshw -C Broadcom
Ya, perintah2 ini memang sakti. Tapi kita tidak akan pernah digunakan jika tidak mengalami masalah dengan hardware. Dan kalaupun punya masalah dengan hardware (seperti kasus wifi adapter saya), biasanya sekali masalah teratasi, perintah ini sudah tidak akan digunakan lagi.
Yah... minimal tambah2 pengetahuan lah. Ga rugi bersusah payah 4 jam
Beberapa waktu lalu, saya sempat menanyakan hal ini kepada rekan-rekan di milis id-ubuntu. Sebenarnya semenjak saya mendapatkan jawabannya, saya ingin langsung mempostingkannya di sini untuk berbagi ilmu. Tapi ternyata saya malas dan lupa :p
Alkisah kantor saya memiliki jaringan komputer dengan konfigurasi yang rada nyeleneh. Untuk intranet, kantor saya perlu mengakses server LAMP (Linux Apache Mysql PHP) pada IP 192.168.0.99. Sementara untuk konek ke internet, komputer harus berada di IP 192.168.1.*
Hal ini sebenarnya dimaksudkan agar karyawan yang tidak berhak mengakses internet tidak bisa melakukannya sambil kerja (karena IP-nya beda). Sedangkan yang berhak mengakses internet kebetulan sekali tidak perlu bekerja dengan server LAMP. Sehingga konfigurasi ini menjadi ideal, kecuali bagi saya si administrator
Sebagai admin, saya harus bisa mengecek intranet sambil browsing2 internet. Pusing karena harus ganti2 IP terus, saya memutuskan untuk meng-google. Ternyata di Linux ada caranya. Semacam virtual Lancard gitu deh. Waktu di coba, gagal.
Akhirnya saya melempar pertanyaan ini ke milist id-ubuntu. Berbekal jawaban dari kawan2, saya coba2 menyesuaikan petunjuk mereka dengan kondisi di kantor saya.
Ternyata, yang perlu dilakukan hanyalah mengedit file /etc/network/interfaces dengan benar. Dan beginilah hasil editan saya
auto lo
iface lo inet loopback
auto eth0
iface eth0 inet static
address 192.168.1.105
network 192.168.1.0
netmask 255.255.255.0
broadcast 192.168.1.255
gateway 192.168.1.1
#kalo mau multi ip
auto eth0:1
iface eth0:1 inet static
address 192.168.0.105
network 192.168.0.0
netmask 255.255.255.0
broadcast 192.168.0.255
Dengan cara ini, saya tidak perlu pusing2 pindah2 IP lagi. Kini komputer saya bisa langsung mengakses keduanya, baik jaringan intranet maupun internet. Senangnya :D
Berikut adalah code snippet ruby yang berguna untuk meringankan beban hidup kita para programmer :)
Mengecek apakah sebuah string berupa bilangan bulat (integer)
num = Integer( variable_yang_dicek ) rescue raise 'error' end
Mengecek apakah sebuah string berupa bilangan pecahan (float)
num = Float( variable_yang_dicek ) rescue raise 'error' end
Mengubah String menjadi Tanggal
time = Time.parse( string_tanggal )
Labels: Ruby
Saya sudah banyak sekali mencicipi yang namanya bahasa programming. Ada Pascal, Foxpro Delphi, VB, VB.NET, PHP, Gambas, Python, Java, Ruby dan lainnya yang saya tidak ingat lagi. Berbagai bahasa program itu saya gunakan untuk keperluan yang berbeda pula. Ada yang sekedar untuk belajar, kuliah, sampai membuat aplikasi serius seperti Point of Sales dan Company Profile. Beberapa diantaranya sudah harus masuk museum, banyak lagi yang terabaikan karena kurang saya sukai sedangkan sedikit dari mereka benar2 masuk kategori bagus menurut saya. Dan diantara semuanya, Ruby benar2 berbeda.
Ruby adalah sebuah bahasa scripting. Mirip seperti PHP, hanya saja Ruby lebih general purpose. Mirip seperti Python, hanya saja Python lebih menyebalkan. Ruby mendukung Pemrograman Berorientasi Obyek dengan sangat baik, dengan syntax yang sangat bersih hingga sulit dipercaya, gaya programming yang fleksibel namun tertata baik, disertai modul2 dasar dengan fungsi2 yang bisa membuat programmer bahasa lain iri. Ruby praktis bisa digunakan untuk apa saja, membuat program CLI (Command line interface), Program Web, maupun Program Desktop. Dengan bantuan modul2 tambahan tentunya.
Untuk CLI, Ruby bisa langsung digunakan. Untuk web, belakangan ini di dunia gempar dengan kehadiran RubyOnRails, sebuah framework yang dapat membuat aplikasi web dalam waktu singkat. Konon janjinya apa yang bisa dikerjakan dengan Java Strut dalam waktu bulanan, dapat dikerjakan di Rails dalam hitungan minggu. Saya sendiri tidak mempelajari Ruby untuk web karena secara de facto PHP adalah penguasa daerah ini (baca : mencari hosting Ruby sulit sekali).
Sedangkan untuk Desktop, Ruby dapat memanfaatkan beberapa GUI Library ternama seperti GTK, QT, dan WxWidget. Hanya saja tidak mudah bagi programmer karena tidak tersedia Visual Editor seperti layaknya VB.NET atau Delphi. Namun saya sendiri menemukan cara untuk membuat program desktop dengan cara yang mudah dan cepat menggunakan Ruby dan WxWidget.
Saat ini saya sendiri sedang membuat program dengan menggunakan Ruby, WxWidget untuk GUI, dan Postgresql untuk database. Saya berharap saya akan punya waktu untuk memposting artikel2 mengenai bahasan ini, sekaligus berjaga2 siapa tahu kalau saya membutuhkannya lagi saya bisa membuka blog ini dan melihatnya :)
Labels: Ruby
Hari ini akuntan kantor saya kembali dari seminar dengan membawa oleh2. Sebuah cd berisi dokumen2 pajak. Rekan saya ini meminta saya untuk mengeprintkan semua file ada di dalam cd tersebut. Saya membuka cd itu dan mulai melihat-lihat.
Ternyata saya dapat kejutan besar disana. Pertama, ada virus. Ga tanggung, sality. Untung saya buka cd itu di Linux. Aman. Kejutan kedua, ternyata isinya buanyaaakkk!!! Sampai 190-an file.
Mendengar saya menyebut jumlah file-nya, rekan saya membatalkan niatnya mengeprint semua file. Sebagai gantinya, ia meminta saya mengeprint nama file2 agar dia bisa memilih file mana yang akan diprint.
Sekali lagi, untuk saya buka cd itu di Linux. Berbekal sedikit ilmu CLI, saya mengetikkan perintah berikut
$ ls > files.txt
dengan demikian saya punya file text berisi seluruh nama file itu. Kini tinggal mengeprint. Saya bisa saja langsung mengeprint file itu, namun demi menghemat kertas, saya membuka OpenOffice Writer, mengcopy seluruh isi files.txt, kemudian menyeting halamannya menjadi dua kolom. Hasilnya, dua lembar penuh berisi nama2 file yang akan diseleksi.
Untung ada Linux. Kalau di Windows, mungkin saya sedang berjibaku melawan virus saat ini. Dan lagian, saya tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan seluruh nama file tersebut di Windows
Fuihhh, untung ada Linux